Ecological values and environmental sustainability in the Kuranding Lake folktale

Authors

  • Fina Hiasa Universitas Bengkulu
  • Ngudining Rahayu Universitas Bengkulu
  • Melia Eka Daryanti Universitas Bengkulu
  • Emi Agustina Universitas Bengkulu
  • Nesa Riska Pangesti Universitas Negeri Padang
  • Yeni Yulia Andriani Universitas Papua
  • Candra Rahma W.P. Universitas Muhammadiyah Malang

DOI:

https://doi.org/10.26555/bs.v46i2.1743

Keywords:

Ecological Values , Environmental Sustainbility , Folklore , Kuranding Lake

Abstract

Local beliefs in the myths surrounding Lake Kuranding are relevant to the lake's existence. This study aims to uncover the ecological values ​​embedded in the Lake Kuranding folktale and their implications for environmental sustainability. This study uses an ecocritical approach, focusing on the social phenomena of the Tanjung Beringin Village community, South Bengkulu, regarding the ecological implications of the Lake Kuranding folktale. The ecological dimension of local narratives tends to be underexplored, even though these narratives are related to the construction of awareness in environmental preservation. This research is a major step towards understanding how the local narrative of the Lake Kuranding folktale represents environmental preservation. Data sources come from literature, interviews, and observations. The results indicate that the Lake Kuranding folktale contains ecological values, namely: (1) self-sufficiency and self-awareness, (2) knowledge of land allocation, and (3) preservation of water and soil sources. The implications of these three ecological values ​​provide numerous benefits, such as the preservation of the lake ecosystem and water sources for two sub-districts in South Bengkulu, an abundance of fish resources, and a foundation for food security for the people of South Bengkulu. The mythical aspects of the Kuranding Lake folklore have transformed into ecological values ​​that guide the community in preserving their natural environment. The existence of the Kuranding Lake folklore today is not only relevant to the oral folklore preservation practices of the Serawai ethnic group in South Bengkulu but also has implications for the lake's sustainability and plays a significant role in the social and economic aspects of the community in South Bengkulu.

References

Afifah, G., Ayub, S., & Sahidu, H. (2020). Konsep alam semesta dalam perspektif Al- Quran dan sains. Jurnal GeoScienceEdu, 1(1), 5–10. https://jpfis.unram.ac.id/index.php/GeoScienceEdu/article/view/36

Awatara. (2011). Peran etika lingkungan dalam memoderasi pengaruh kepemimpinan dan budaya organisasi berwawasan lingkungan terhadap kinerja karyawan berwawasan lingkungan. Jurnal Ekosains, 3(2), 105-120. http://jurnal.pasca.uns.ac.id/index.php/ekosains/article/download/287/271

Barone, D. M. (2011). Children’s literature in the classroom: Engaging lifelong readers. NeThe Guilford Press.

Borg, W. R. (2002). Educational research: An introduction. Pearson Education, Inc.

Danandjaya, J. (1991). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Pustaka Utama Grafiti.

Djamaris, E. (2002). Pengantar sastra rakyat Minangkabau. Yayasan Obor Indonesia.

Efendi, A. N., Albaburrahim, A., Hamdani, F., & Wafi, A. (2024). Mitos dan pelestarian alam: Eksplorasi ekologi dalam cerita rakyat Sumber Taman Sari di Madura, Indonesia. GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 34-46. https://doi.org/10.19105/ghancaran.vi.17178

Fahmi, R. F. (2017). Mitos danau sebagai pelestari lingkungan. Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 4(2), 65-75. https://doi.org/10.33603/deiksis.v4i2.639

Fanani, M., Mardiyanto, & Yetti, E. (1997). Analisis struktur dan nilai budaya. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Fang, L. Y. (2012). Sejarah kesustraan Melayu klasik. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Giddens, E. (2012). Encountering social-constructivist rhetoric: Teaching an environmental writing and literature course. In Greg Garrard (Ed.) Teaching Ecocriticism and Green Cultural Studies. Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/9780230358393_4

Glotfelty, C., & Fromm, H. (1996). The ecocritism reader landmarks in literary ecology. University of Georgia Press.

Gunawan, R., Digdoyo, E., & Subarkah, A. (2014). Budaya kearifan lokal dalam tata kelola dan pengembangan lingkungan kota. Jurnal Sejarah dan Budaya, 8(2), 207-214. http://dx.doi.org/10.17977/sb.v8i2.4773

Herlina, N., (2015). Permasalahan lingkungan hidup dan penegakan hukum lingkungan di Indonesia. Jurnal Ilmiah Galuh Justisi, 3(2), 2-3. https://doi.org/10.25157/jigj.v3i2.93

Hutomo, S. S. (1991). Mutiara yang terlupakan: Pengantar studi sastra lisan. Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia.

Ilhami, A., Riandi, R. & Sriyati, S. (2019). Implementation of science learning with local wisdom approach toward environmental literacy. IOP Conf. Series: Journal of Physics, 1157 https://doi.org/10.1088/1742-6596/1157/2/022030

Keraf, S. A. (2010). Etika lingkungan hidup. PT. Kompas Media Nusantara.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.

Kuswarno, E. (2009). Fenomenologi. Widya Padjadjaran.

Larasati, M. M. B. (2020). Representasi kerusakan alam dan nilai kearifan lokal dalam cerpen Kanuku Leon karya Christian Dicky Senda. 6(3), 279–286.

Leavenworth, M. (2020). Climate fiction and young learners thoughts dialogue between literature and education. Journal Enviromental Education Reasearch. https://doi.org/10.1080/13504622.2020.1856345

Madjid, N. (2018). Analisis metode penghitungan dan alokasi anggaran bencana alam. Simposium Nasional Keuangan Negara, 1(1), 1046–1065. https://jurnal.bppk.kemenkeu.go.id/snkn/article/view/263

Napitupulu, N. D., Munandar, A., Redjeki, S., & Tjahyono, B. (2019). Interaction of students motivation and ecological phenomena toward learning outcomes using problem-based ecopedagogy. Journal of Physics: Conference Series, 1157(2), 022045. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1157/2/022045

Narendra. (2009). Alih fungsi (Konversi) kawasan hutan Indonesia: Tinjauan aspek hidrologi dan konservasi tanah. Prosiding Perubahan Fungsi Kawasan Hutan. Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Nisa, R. (2019). Esensi alam semesta dalam perspektif falsafah. AL-HADI, 4(2), 20–21. https://doi.org/10.54248/alhadi.v4i2.749

Nurmawati, F., & Yulisetiani, S. (2023). Literasi ekologi dalam fabel anak tupai yang jera dan kisah lainnya karya Yudhistira Ikranegara. Deiksis, 15(2), 166-173. https://doi.org/10.30998/deiksis.v15i2.10588

Poerwanto, H. (2005). Kebudayaan dan lingkungan dalam perspektif antropologi. Pustaka Pelajar.

Pusat Bahasa. (2008). Kamus bahasa Indonesia. Pusat Bahasa.

Ratih, R. (2019). Mencipta sastra anak bertema kearifan lokal berbasis pendidikan karakter. STILISTIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(2), 274–286. https://doi.org/10.33654/sti.v4i2.995

Rohman, A., Fitrahayunitisna, F., & Astawan, I. (2022). Nilai ekologis cerita rakyat Dewi Sri dan implikasinya dalam kehidupan pragmatis masyarakat petani Jawa Timur. Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, 6(1), 86-95. https://doi.org/10.21776/ub.waskita.2022.006.01.7

Rukayah. (2018). Eksistensi cerita rakyat sebagai media pembentukan karakter siswa sekolah dasar. JIKAP PGSD: Jurnal Ilmiah Ilmu Kependidikan, 2(2), 32-40. https://doi.org/10.26858/jkp.v2i2.6860

Semi, M. A. (2012). Metode penelitian sastra. CV Angkasa.

Setiadi, M. (2012). Ilmu sosial budaya dasar. Kencana.

Sisyono, E. W. (2008). Foklor Jawa di daerah aliran Sungai Bengawan Solo dan sumbangannya terhadap pelestarian lingkungan. Perpustakaan Nasional RI.

Stalis, S. S. F. D., Fitrah, Y., & Dewi, Y. (2022). Nilai budaya legenda bukit perak sebagai bahan ajar Bahasa Indonesia kelas X. Jurnal Bahasa Indonesia Prima (BIP), 4(1), 200-207. https://doi.org/10.34012/jbip.v4i1.2344

Sriyono. (2014). Kearifan lokal dalam sastra lisan suku Moy Papua. Jurnal Pendidikan Bahasa, 17(1), 55-69. https://doi.org/10.24257/atavisme.v17i1.19.55-69

Sugiharti. (2017). Ekologi budaya dalam sastra sebagai pembentuk karakter peserta didik. Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra, (1), 397-402.

Suwandi, Y. E. (2016). Kecerdasan ekologis dalam buku sekolah elektronik mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP. Jurnal Litera, 15(1), 23-37. https://doi.org/10.21831/ltr.v15i1.9763

Tilaar, H. A. R. (2002). Pendidikan, kebudayaan, dan masyarakat madani Indonesia: Strategi reformasi pendidikan nasional. PT Remaja Rosdakarya.

Wulandari, Y. (2017). Kearifan ekologis dalam legenda “Bujang Sembilan” (Asal-usul Danau Maninjau). Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra, 8(1), 105–114. https://doi.org/10.31503/madah.v8i1.376

Additional Files

Published

2026-05-13